Menyehatkan suami


Sumber : Koran Tempo, Gaya Hidup, Kamis, 24 Januari 2008

( Catatan: Artikel dibawah ini ditulis untuk wanita namun bagus juga buat pria. Sayang jikalau dilewatkan)

Pasangan mempengaruhi keputusan para pria untuk pergi ke dokter.

Bagaimana membuat para suami lebih sehat tanpa mengomel atau membuat Anda gila? Atau bagaimana supaya suami mau memeriksakan diri begitu dia merasa sakit atau menderita suatu penyakit tanpa menunggu terlalu lama?

Anda tidak sendiri. Sebab, wanita juga menemui jalan buntu saat harus mengajak suaminya pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Setidaknya kenyataan ini berdasarkan survei yang digelar oleh American Academy of Family Physicians (AAFP) terhadap 1.100 pria.

Hasil survei memperlihatkan sebanyak 92 persen pria mengatakan akan menunggu setidaknya beberapa hari sebelum pergi mencari pertolongan ketika mereka merasa sakit atau menderita suatu penyakit. Hampir 30 persen dari mereka mengatakan akan bertahan selama mungkin.

Tak hanya itu, pria sering mengabaikan kontrol rutin. Survei menunjukkan lebih dari setengah para pria tersebut tidak menyelesaikan kontrol rutin pada tahun lalu walaupun 42 persen dari mereka menderita keadaan kesehatan yang kronis, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, arthritics (radang sendi), diabetes, atau kanker. Banyak juga yang lalai melakukan screening yang direkomendasikan, seperti tes kolesterol, pemeriksaan prostat, dan pemeriksaan usus.

“Salah satu kendala terbesar buat meningkatkan kesehatan pria adalah diri mereka sendiri,” ujar Ketua Dewan AAFP Rick Kellerman, MD, baru-baru ini. Dia menambahkan, pria akan pergi ke dokter setelah gejala-gejalanya menjadi lebih parah. “Dan jika mereka merasa lebih baik, mereka sama sekali tidak akan pergi,” Kellerman mengungkapkan. Wah, repot, bukan?

Tapi ada secercah harapan: Kamu (istri) memiliki kekuatan untuk mendorong mereka melakukan hal yang benar untuk dirinya. Penelitian yang dilakukan oleh Kellerman memperlihatkan bukti bahwa hampir 80 persen dari pria yang disurvei AAFP ternyata memutuskan untuk pergi ke dokter atas pengaruh dari pasangan mereka.

Yang terbaik adalah biarkan tindakanmu berbicara. Riset ini dilakukan oleh Tracy A. Falba, PhD, ahli ekonomi kesehatan dari Duke University, dan Jody L. Sindelar, PhD, dari Yale School of Medicine, yang menganalisis kebiasaan gaya hidup 6.000 pasangan.

Mereka menemukan bahwa perubahan kesehatan para wanita sering kali “membisikkan” suami mereka untuk mengikuti kebiasaan itu. Pria yang memiliki istri berhenti merokok delapan kali akan ikut menghentikan kebiasaan merokok mereka dibanding para pria yang memiliki pasangan yang tetap merokok. Syukurlah!

MARLINA MARIANNA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s