Gangguan Ereksi, Awal Gejala Penyakit Lebih Serius


Sumber : Koran Tempo

Ini jadi peringatan bagi para pria. Lebih dari 150 juta pria di seluruh dunia telah menderita disfungsi ereksi dan diperkirakan 20 tahun mendatang angka kejadian ini akan meningkat menjadi dua kali lipat mencapai 322 juta dengan perincian 100 juta penderita berada di Asia.

Penyakit disfungsi ereksi, yang merupakan kondisi ketidakmampuan pria secara konsisten maupun berulang untuk mempertahankan atau mencapai ereksi cukup untuk dapat melakukan hubungan intim yang memuaskan ini, umumnya dijumpai pada 40-50 persen pria di atas usia 40 tahun.

Disfungsi ereksi (DE) merupakan isu yang sering dibicarakan berkaitan dengan masalah kesehatan pria, kendati para dokter masih jarang mendiskusikan masalah ini dengan pasien, DE punya faktor multirisiko. DE yang tadinya hanya berkaitan dengan kondisi kualitas hidup pria menjadi gangguan yang makin menakutkan karena menempel kuat pada penyakit mengancam jiwa seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, jantung, dan depresi.

Faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit kardiovaskular, diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, merokok, kurang olahraga sama dengan faktor risiko yang terkait dengan gangguan disfungsi ereksi.

Dr. Santoso Karo Karo, kardiolog dari RS Harapan Kita menyebutkan, banyak pasien DE ternyata juga menderita penyakit kardiovaskular, seperti ukuran pembuluh darah yang mengalirkan darah ke penis menjadi menyempit. Gangguan DE juga ancaman awal dilihat dari terjadinya pengecilan dan pengerasan pembuluh darah, sebelum penyakit ini menjadi jelas dengan menyerang pembuluh darah arteri lainnya. Selain itu, penyakit diabetes jadi ketakutan lain karena juga bisa merusak saraf dan gangguan suplai darah ke penis.

Dari banyaknya jumlah penderita DE, hanya 15-20 persen penderita yang menjalani pengobatan.

Menurut Dr. Akmal Thaher SpBU, ahli urologi dari RSCM, banyak pasien yang mengeluhkan adanya gangguan ereksi pada dirinya, namun miskin pemahaman bahwa sebenarnya dia menderita penyakit lain, seperti hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. “Rasa pusingnya persis pertanda gejala hipertensi. Mencari obat mengatasi pusing itu yang paling penting,” kata Akmal yang menilai adanya gangguan ereksi memang tidak mengancam jiwa, tapi di lain pihak itu mengancam keutuhan keluarga dan keharmonisan dan selain itu di belakangnya ada penyakit lain yang lebih serius.

Yang jadi masalah, ada beban bagi penderita DE untuk mencari formula pengobatan. Di antaranya karena adanya anggapan bahwa seks bukan sebuah persoalan paling penting, gangguan itu sifatnya hanya sementara, tidak begitu dianggap penyebab konflik, sejauh ini hubungan tidak terpengaruh bahkan pasangan tidak mengeluh sampai kepada anggapan bahwa persepsi negatif terhadap pengobatan disfungsi ereksi.

“Mereka malu dan malas membuka diri karena ereksi itu lambang kejantanan dan berhubungan dengan harga diri,” kata Akmal. Banyak pula yang sudah ke dokter, tapi justru masalah tidak terungkap benar.

Ironisnya, banyak sekali pria yang menilai bahwa masalah kejiwaan amat berperan dalam soal gangguan ini. Mereka abai bahwa hal ini sebenarnya lebih menonjol pada kelainan pada aliran darah dan organ tubuh.

Prof Dr. dr. Slamet Suyono SpPD-KEMD, spesialis penyakit diabetes, menguraikan bahwa prevalensi gangguan ereksi ditemukan tiga kali lebih banyak pada pasien diabetes mellitus. Artinya, diperkirakan pria berusia 35 hingga 55 tahun yang menderita diabetes dipastikan akan mengalami gangguan ereksi tidak sampai enam tahun ke depan.

Selama ini obat oral masih menjadi pilihan pertama terapi pengobatan. Dengan alasan, dianggap bisa bekerja sesuai dengan waktu yang diinginkan, lebih aman, sedikit efek samping, bisa digabungkan dengan cara pengobatan lain, dan bisa digunakan kapan saja.

Untuk mengerti DE dan peran terapi seperti inhibitor phosphodiesterase tipe 5 (PDE5), sangat diperlukan penguasaan pengetahuan dasar mengenai mekanisme proses ereksi. Dalam proses ini, rangsangan seksual menyebabkan terjadinya pembentukan senyawa yang disebut cyclic guanosine monophosphate (GMP). Senyawa ini membuat otot polos dalam pembuluh darah penis menjadi rileks, sehingga menyebabkan terjadinya ereksi. Sebuah enzim yang bernama PDE5 menyebabkan pecahnya cyclic GMP, sehingga mengurangi aliran darah, yang berakibat gagalnya atau terhalangnya kondisi ereksi. PDE5-inhibitor menghalangi pemecahan cyclic GMP oleh enzim PDE5. Dalam hal ini, PDE5-inhibitor membantu proses ereksi, sehingga memungkinkan pria penderita DE untuk mencapai dan mempertahankan ereksi.

Menyusul pendahulunya, kini ada dua produsen obat pesaing Viagra yang dulu dikenal dengan nama senyawa sildenafil, yakni, Levitra untuk nama komersial atau senyawa vardenafil yang diproduksi oleh farmasi Jerman PT Bayer Healthcare dan GlaxoSmithKline. Satu lagi adalah Cialis dengan nama senyawa tadalafil di bawah gabungan dua perusahaan farmasi terkemuka Indianapolis, Amerika Serikat, ICOS Corporation dan Eli Lilly and Compani.

Untuk pasar Indonesia Cialis tersedia dengan dosis 10 mg dan 20 mg, dan termasuk kategori ethical product yang hanya bisa diperoleh dengan resep dokter. Obat ini dikonsumsi 30 menit sampai 12 jam sebelum melakukan aktivitas seksual. Khasiatnya bisa mencapai hingga 36 jam setelah dikonsumsi sesuai dosis. Sedangkan Levitra dikemas dalam tablet bundar berwarna orange dalam dosis 5, 10, dan 20 mg dengan harga 19 persen lebih murah dibanding Viagra.

Obat dengan senyawa tadalafil ini hanya akan membantu pria untuk mencapai ereksi apabila ia menerima rangsangan seksual. Obat ini bukan sejenis obat perangsang dan tidak untuk meningkatkan libido. Obat ini tidak dianjurkan untuk pria yang tidak menderita DE. Dan vardenafil dilarang bagi mereka yang tidak boleh melakukan kegiatan seksual, pria berusia di atas 75 tahun atau penderita DE yang juga minum obat golongan nitrat (kelompok obat penyakit nyeri dada) dan pasien yang hipersensitif terhadap senyawa obat itu.

Meski obat-obatan untuk disfungsi ereksi semakin banyak, bukan berarti masalah pria yang menderita DE selesai. Obat-obatan itu mungkin seperti obat pusing. Dengan meminum obat itu gejala yang terlihat di luar mungkin terselesaikan, namun masalah lain yang lebih serius tetap membutuhkan penanganan.

evieta fadjar

Iklan

One response to “Gangguan Ereksi, Awal Gejala Penyakit Lebih Serius

  1. Terima kasih atas infonya. moga bermamfaat, kita dalam menjaga kesehatan. mari hidup sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s