Category Archives: Terapi Kedokteran

SEPUTAR EREKSI : Mirip Sosis atau Pisang?

Sumber : Suara Karya Online

Bagi para pria –untuk mendapatkan pengalaman seksual yang memuaskan– ternyata yang dibutuhkan bukan hanya mencapai dan mempertahankan ereksi saja, namun juga tingkat atau kadar kekerasan ereksi. Derajat ereksi yang ideal untuk mendapatkan kepuasan seksual adalah penis keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya, seperti mentimun.

Konsensus baru dari para ahli menganjurkan para pria untuk mengukur derajat kekerasan ereksi mereka dengan menggunakan metode pengukuran EHS (erection hardness score) untuk memonitor apakah mereka mencapai potensi ereksi yang sempurna.

Skala nilai yang digunakan EHS adalah 1-4. Baca lebih lanjut

Iklan

Ukur Kekerasan Ereksi dengan EHS

Sumber : Okezone.com

Pada tahun 2006, Pfizer melakukan Global Better Sex Survey (GBBS 2006), sebuah survei mengenai perilaku seksual dari 12.558 pria dan wanita di 27 negara.

“Melalui survei ini terungkap bahwa untuk mendapatkan pengalaman seksual yang memuaskan dibutuhkan tingkat kekerasan ereksi yang optimal. Tingkat kekerasan ereksi itu sama pentingnya dengan kemampuan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi itu sendiri,” kata Dr Andini Suhardi, Senior Product Manager untuk Viagra PT Pfizer Indonesia, ketika ditemui okezone dalam acara temu wartawan di Tiamo Cafe, Pacific Place, Jakarta Selatan, Rabu (9/4/2008).

Hasil temuan GBBS juga mengungkapkan bahwa sekitar 2/3 pria (65 persen) dan wanita (66 persen) merasa sangat puas dengan ereksi yang keras sehingga kehidupan cinta dan asmara mereka memuaskan. Selain itu, 57 persen pria dan 50 persen wanita merasa sangat puas dengan ereksi yang keras sehingga kondisi kesehatan secara keseluruhan juga mencapai kesempurnaan.
Baca lebih lanjut

Skala Kekerasan penis saat ereksi : tape, pisang rebus, sosis, mentimun atau terung

Untuk mengukur seberapa keras penis saat ereksi, ada metode yang dikembangkan Dr Irwin Goldstein dengan menggunakan empat skala sederhana sehingga bisa dilakukan setiap orang: erection hardness score. Metode ini menggunakan skala nilai 1-4 sebagai acuan untuk melihat status seksual dan efektivitas pengobatan. Untuk bisa melakukan ereksi sempurna, harus mencapai skala 4.

  1. Penis membesar, tapi tidak cukup besar seperti tape.
  2. Penis mengeras, tapi tidak cukup keras untuk penetrasi seperti pisang rebus yang sudah dikupas kulitnya.
  3. Penis cukup keras untuk penetrasi, tapi tidak seluruhnya keras seperti sosis.
  4. Penis keras secara menyeluruh dan tegang sepenuhnya seperti mentimun atau terung.

Gangguan Ereksi, Awal Gejala Penyakit Lebih Serius

Sumber : Koran Tempo

Ini jadi peringatan bagi para pria. Lebih dari 150 juta pria di seluruh dunia telah menderita disfungsi ereksi dan diperkirakan 20 tahun mendatang angka kejadian ini akan meningkat menjadi dua kali lipat mencapai 322 juta dengan perincian 100 juta penderita berada di Asia.

Penyakit disfungsi ereksi, yang merupakan kondisi ketidakmampuan pria secara konsisten maupun berulang untuk mempertahankan atau mencapai ereksi cukup untuk dapat melakukan hubungan intim yang memuaskan ini, umumnya dijumpai pada 40-50 persen pria di atas usia 40 tahun.

Disfungsi ereksi (DE) merupakan isu yang sering dibicarakan berkaitan dengan masalah kesehatan pria, kendati para dokter masih jarang mendiskusikan masalah ini dengan pasien, DE punya faktor multirisiko. DE yang tadinya hanya berkaitan dengan kondisi kualitas hidup pria menjadi gangguan yang makin menakutkan karena menempel kuat pada penyakit mengancam jiwa seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, jantung, dan depresi.
Baca lebih lanjut

Terapi Alternatif untuk Jantung (termasuk terapi khelasi)

Dikutip dari : KOMPAS
Ada beragam penyakit jantung, yakni jantung bawaan, jantung katup rematik, jantung darah tinggi, jantung kardiomiopati, dan jantung koroner. Penyakit jantung koroner (PJK) menduduki peringkat pertama.

OPERASI BY PASS atau balonisasi cukup efektif bagi penderita jantung koroner. Sayang, tidak semua pasien bisa menjalaninya. Beberapa terapi alternatif seperti obat, meditasi, yoga, dan khelasi bisa jadi solusi.
Baca lebih lanjut